Indungsia dotCom

27 December 2009

Wayang, Mitos dan Sejarah

Filed under: Wayang — pazn69 @ 12:16 pm
Tags:

Oleh: Muhammad Dzul Basthah

Kuno, ketinggalan jaman, itulah kesan kita terhadap wayang. Wayang yang berarti bayangan, bisa diartikan sebagai bayangan kita di dunia ini. Dan dikisah itu, kemudian dimasukkan nilai-nilai yang sebenarnya bila kita renungi, wacanakan dan kita jabarkan, bahkan bisa sampai pada pengertian seni adi peni dan keagungan adi luhung. Para pujangga nenek moyang kita, lebih memilih membuat ajaran nilai-nilai filsafatnya tertuang melalu runtutan cerita dan karakter tokoh dalam cerita-cerita itu. Seminar-seminar yang mereka lakukan melalui pendekatan budaya, yang mudah diterima oleh masyarakat kita, antara lain melalui pagelaran wayang kulit, wayang orang, dan banyak lagi lakon-lakon lainnya. Bentuk pegelaran yang disesuaikan dengan karakter keseharian budaya kita tentunya akan lebih mudah diterima.

Wayang sudah membaur dengan kehidupan masyarakt Jawa, mulai dari jaman Jawa purwo. Wayang dengan kesusasteraan dan tauladan kehidupan di dalamnya, telah mewarnai dan mempengaruhi kehidupan masyarakat, bahkan sampai kestruktur serta pondasi pemerintahan di Jawa. Mulai dari jaman dulu (Hindu Budha) sampai kezaman Jawa Islam. Selain sebagai sastra, wayang juga dalam perkembangannya digunakan untuk menyampaikan ajaran agama.

Bahkan karya sastra yang kita anggap kuno ini, pernah menjadi ikon sastra dari sebuah negara terbesar yang pernah ada di Indonesia, yaitu kerajaan Majapahit, yang kekuasaannya membentang dari pulau-pulau nusantara sampai Philipina, Brunai Darussalam, Malaysia dan sebagian Negara Thailand serta Myanmar. Hal ini adalah sabuah bukti bahwa budaya kita bukanlah budaya yang tidak bermutu, demikian halnya pada jaman kita ini, yang mulai mengkiblat pada dunia eropa. Padahal, yang budaya kita tidak kalah dengan mereka.

Apa yang coba penulis ungkapkan sekarang dan tulisan-tulisan berikutnya, adalah keinginan untuk memperlihatkan sebuah benang merah, bahwa, ide-ide kepemimpinan dari dunia Barat, sebenarnya juga sudah kita miliki, bahkan, jauh sebelum ide dari dunia Barat itu sendiri digagas. Selain itu, sebagai sebuah wacana tentang bagaimana kita sebenarnya. Kita juga bisa belajar mengenai banyak hal melalui nilai-nilai budaya itu sendiri. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka mata lebih lebar dan memasang telinga lebih tajam, atas apa yang sudah kita miliki. Salah satunya melalui nilai-nilai dalam dunia wayang. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang besar dan maju, kalau kita melupakan budaya sendiri dan berkiblat kepada budaya asing, yang sama sekali tidak sesuai dengan karakter kepribadian bangsa kita. Ingatlah! jaman keemasan masa lalu adalah modal hari ini untuk membuat proyeksi kejayaan masa depan.

Terlepas dari uraian diatas dan sebelum membahasnya lebih lanjut, marilah kita melihat kembali pada bahasan tentang wayang. Apakah sebuah mitos ataukah sejarah? Disini penulis ingin mengungkapkan beberapa bukti sejarah dan cerita-cerita sejarah yang akan mengungkap sedikit asal muasalnya.

Pada masa-masa awal, kebudayaan yang masuk ke tanah Jawa berasal dari India, kebudayaan India secara riil mempengaruhi dan mewarnai kebudayaan Jawa. Meliputi sistem kepercayaan, kesenian, kesusastraan, astronomi, motilogi, dan pengetahuan umum.

Bangsa India yang datang pertama kali ke tanah Jawa, beragama Hindu Siwa. Yang menganggap trimurti sebagai Tuhannya. Yaitu, Batara Brahma, Wisnu dan Siwa. Kisah pewayangan juga merupakan salah satu kebudayaan India yang dibawa ketanah Jawa. Hal ini dapat dibuktikan dari bahasa sansekerta, sebuah bahasa yang berasal dari India. Yang bercorak hinduisme dalam sastra pewayangan kuno. Misalnya pada Kakawin Arjuna Sasra Bahu, Ramayana dan Mahabarata. Kalau kita melihat dari asal negeri India, cerita pewayangan dikarang oleh Empu Walmiki (Ramayana) Begawan Krisna Dwipayan Wiasa (pengarang kitab Meda dan Mahabarata).

Seiring dengan perkembangan dan pergantian jaman di Jawa, begitu pula perkembangan sastra pewayangannya. Pewayangan pada jaman Islam ada sebagian alur cerita dan nama tokoh yang berbeda dengan wayang Hindu. Konon, Sunan Kalijagalah revolusioner wayang Jawa Islam. Menurut cerita yang turun temurun, bahwasanya beliau Kanjeng Sunan mendapatkan cerita pewayangan ini dari seorang petapa yang ditemuinya di sebuah bukit yang kini dikenal dengan nama bukit Jambu Karang. Petapa tersebut bernama Yudistira (yang pada masa mudanya dinamakan Punta Dewo), masih menurut cerita ini, sang pertapa yang sudah berumur ratusan tahun tersebut mempunyai sebuah pusaka yang dinamakan Jamus Kalimasada. Yang tidak pernah ia ketahui maksud dan penjabarannya. Singkat kata dan cerita, Jamus Kalimasada yang berisi dua kalimat syahadat tersebut, diwedar Sunan Kalijaga kepada Yudistira di bukit jambu karang. Dan selanjutnya sang pertapa mengucapkan syahadat sebelum meninggal dunia. Hider’s, seakan cerita ini hanyalah dongeng belaka, tetapi ketahuilah, di belakang masjid Demak dapat kita temukan dan ziarahi makam sang pertapa, sebuah bukti kebenaran cerita ini.

Yudistira adalah saudara tertua dari pandawa lima dan nama Kunto Dewo yang kemudian oleh Sunan Kalijaga diartikan berasal dari lafad, fa anta da’waa. Artinya; kamu silahkan mengajak saudara-saudaramu yang belum syahadat, supaya mereka mau syahadat.

Dan sebuah bukti kesejarahannya dapat kita lihat pada kitab Babad Tanah Jawi yang ditulis pada tahun 1647 pada jaman keraton Surakarta dipimpin oleh Kanjeng Sultan Pakubuwono III. Pada teks asli Babad Tanah Jawi memuat silsilah raja-raja Jawa, mulai dari Nabi Adam as, Dewa-Dewa agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabarata, cerita panji masa Kediri, masa Pajajaran, Mataram, dan berakhir pada masa Kantasura.

Nabi Adam as -Sanghyang Nurcahyo- Sanghyang Nurroso, Sanghyang Wenag (Wening)- Sanghyang Tunggal- Batara Guru- Batara Brahma-Bambang Bremani- Bambang Prikenan- Raden Manumajasa- Bambang Sakutrem- Bambang Sakri-Begawan Palasara- Prabu Abiyasa- Prabu Pandu Dewanata- Raden Arjuna (Janoko)- Harya Abimayu (Hangka Wijoyo)- Prabu Parikesit- Prabu Yudoyono-Prabu Gendroyono- Prabu Joyoboyo- Prabu Joyo Wijoyo- Prabu Joyo Amisaeno- Prabu Kusumo Wicitro- Prabu Citra Somo- Prabu Ponco Driyo- Prabu Suwelocelo- Prabu Sri Mahapunggung- Prabu Kandi Awam- Resigentayn Ing Jenggolo- Prabu Lembu Amiluhur Ing Jenggolo- Prabu Panji Maesatandriman Ing Jenggolo- Prabu Kudo Lalean (Segaluh)-Prabu Banjaran Sari (Pajajaran I)- Prabu Munding Sari (Pajajaran II)- Prabu Muding Wangi (Pajajaran III)- Prabu Sri Pamekas (Pajajaran IV)- Raden Susuroh (Raden Wijaya Majapahit I)- Prabu Anom Kumoro (Majapahit Ii)- Prabu Handa Ningkung (Majapahit III)- Prabu Hayam Wuruk (Majapahit IV)- Prabu Lembu Amisari (Majapahit V)- Prabu Bratanjung (Majapahit VI)- Prabu Hongko Wijoyo/ Raden Alit (Sang Prabu Bramijoyo V).

Penulis cukupkan sampai Prabu Brawijaya V, karena beliau adalah raja terakhir keraton Majapahit, sesudahnya pulau Jawa dikuasai kerajaan Demak Bintoro (kerajaan Islam pertama di Jawa). Dari sini, kita sudah dapatkan titik terang dari gelapnya sejarah pewayangan, sebuah rancangan yang hebat bukan?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: