Indungsia dotCom

28 December 2009

Walking the Equator Line

Filed under: Wisata negeriku — pazn69 @ 3:57 pm
Tags:

Pontianak menyimpan bangunan-bangunan uzur berdesain cantik dan berlantai kayu belian. Kota yang terbelah sungai ini juga punya Tugu Khatulistiwa yang menawarkan atraksi langka: menghilangkan bayangan di siang hari. Berikut kisah Heru Hendarto mengunjungi tanah kelahirannya.

Sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak menginjakkan kaki di Pontianak. Dua asosiasi yang mungkin paling diingat orang tentang Ibukota Kalimantan Barat ini adalah jeruk dan Sungai Kapuas. Keduanya memang layak jadi ikon. Jeruk Pontianak rasanya khas—manis kecut dengan kulit tipis berwarna hijau. Sedangkan Kapuas adalah sungai terpanjang nomor satu di Indonesia. Konon, sungai ini pernah menjadi lokasi syuting film “Anacondas: The Hunt for the Blood Orchid”. 

Pontianak tidak hanya terbelah secara geografis oleh sungai, tapi juga secara demografis oleh suku-suku yang mendiaminya, baik pendatang maupun asli. Di sini hidup etnis Melayu, Cina, Jawa, Bugis, dan Padang. Mereka berbaur harmonis dan memberi warna pada paras kota.

Jika ada satu hal yang tak banyak diketahui orang tentang Pontianak pastilah tentang asal-usul namanya. Pontianak berasal dari kata “kuntilanak”, hantu wanita legendaris dalam film horor Indonesia yang dicirikan dengan rambut panjang, gaun putih, dan tawa melengking. Oleh segelintir orang di negeri tetangga, istilah “hantu pontianak” masih digunakan sampai sekarang.
Agenda pertama saya adalah menyambangi Keraton Pontianak yang dijuluki Istana Kadriyah.

Menapaki halaman keraton megah ini, khayalan saya terbang ke masa silam. Sejarah Pontianak dimulai pada 1771 saat Syarief Abdurrachman dari Kerajaan Mempawah menempuh ekspedisi akbar guna mencari tempat tinggal baru di sepanjang Kapuas. Rombongan sempat singgah di Pulau Batu Layang yang sekarang disulap menjadi kompleks pemakaman keturunan raja. Di tempat inilah mereka mulai mendapat gangguan dari hantu pontianak.

Syarief Abdurrachman melanjutkan perjalanan hingga ke persimpangan Kapuas dan Landak, membuka daerah selama delapan hari, lalu mendirikan rumah dan balai. Selang delapan tahun, ia dilantik menjadi raja pertama dan bersamaan dengan itu berdiri pulalah Istana Kadriyah.
Istana Kadriyah masih gagah berdiri di tepi Kapuas, tepatnya di wilayah Kampung Dalam Bugis, dengan ornamen yang kental menyiratkan ciri kerajaan Islam. Saya perhatikan, selain cat warna kuning khas Melayu, terdapat banyak sekali pahatan bulan dan bintang yang menghiasi sisi-sisi keraton. Kita bisa melihat logo ini tertera di pintu masuk dan dinding kayu, serta di bendera kebesaran yang berkibar di halaman istana.

“Maaf Mas, saat ini keraton sedang berkabung, jadi kunjungan sementara ditutup,” sapaan dari bapak tua penjaga keraton mengagetkan saya. Ternyata seorang kerabat dekat keraton baru saja meninggal empat hari lalu. Saya jadi mengerti kenapa bendera hanya dikibarkan setengah tiang.

Saya mengintip lewat celah di pintu depan dan mendapati ruangan istana yang didominasi warna kuning. Singgasana raja yang berwarna keemasan berdiri kokoh dikelilingi foto para pembesar kerajaan dan beberapa aksesori seperti jam duduk tua dan guci-guci keramik. Tampak pula sebuah cermin antik dari Prancis yang dinamakan “kaca seribu”. Ruangan ini masih menyiratkan aura kegagahannya sebagai tempat para petinggi mengambil keputusan, layaknya ruang oval di Gedung Putih.

Saya melangkahkan kaki ke serambi istana, menginjakkan kaki di atas papan kayu belian (kayu ulin) yang terkenal akan kekua-tannya. Jika masyarakat Jawa bangga dengan kayu jatinya, masyarakat Kalimantan kagum pada kayu belian-nya. Kayu ini dikenal memiliki kekuatan luar biasa, bahkan gergaji biasa pun tak akan sanggup memotong batangnya. Pastinya Anda juga tak akan menemukan ukiran indah berbahan kayu belian. Konon, jika direndam di dalam air selama bertahun-tahun, kayu belian akan awet selama puluhan atau bahkan ratusan tahun!

Saat saya mengagumi kekuatan kayu belian, tampak di kejauhan seorang pesuruh istana sedang mengepel lantai. Saya melongok ke embernya dan melihat lapisan minyak mengambang di permukaan air. Masyarakat Pontianak memang memiliki kebiasaan unik mencampur air pel dengan solar saat mengepel lantai yang berbahan kayu belian. Campuran ini dipercaya bisa membuat lantai tampak licin dan kinclong, serta lebih awet dan bersih. Metode yang menarik, asalkan tidak ada orang yang membuang puntung rokok sembarangan.

Meninggalkan Keraton Kadriyah, saya melangkahkan kaki melewati gerbang istana menuju sebuah monumen yang saat ini terletak di samping pasar rakyat. Keterangan yang tertera pada pahatan batu pualam menginformasikan periode 1312 – 1352 tahun Arab. Monumen sederhana ini dibangun sebagai peringatan 40 tahun pemerintahan Sultan VI Pontianak, Sjarief Mohamad Alkadrie. “Sjarief” atau “Syarief” adalah salah satu nama depan yang lazim dipakai di Kalimantan Barat, terutama di komunitas Melayu. Selain itu juga ada “Gusti” dari Mempawah, dan “Uray” dari Sambas.

Meneruskan langkah menuju Masjid Jami yang hanya berjarak 100 meter dari monumen, saya melewati pasar tradisional yang riuh. Tampak deretan perahu bermesin yang tertambat di pinggir sungai. Perahu-perahu ini berope-rasi tiap hari untuk melayani penumpang yang hendak menyeberang ke kota.

Dinamika masyarakat Pontianak sejak zaman keraton memang tak bisa dilepaskan dari transportasi air. Bagaimana tidak, walaupun infrastruktur jalan cukup memadai, tetap saja perahu memegang peran vital di kota yang dipotong oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak ini. Dulu, seingat saya, lebih banyak perahu sampan bertenaga manusia, tapi sepertinya kemajuan zaman telah mendorong substitusi tenaga manusia menjadi tenaga mesin 20 pk.

jalanjalan.co.id

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: